Membaca Buku: Waktu Luang Emas Yang Diremehkan Saat Pandemi Covid-19?

Beruntung dan diberkatilah mereka yang banyak membaca buku di masa pandemi Covid-19.

Pandemi sudah jalan 7 bulan dan kebanyakan kita ngabisin waktu dengan ketololan. Seperti main game, aplikasi tik-tok goblok, nonton bokep, atau nonton video kucing di youtube seharian, dll.

Pandemi covid-19 adalah tantangan sekaligus kesempatan. Salah satu kesempatannya adalah tersedia waktu luang di rumah untuk dipakai mengejar pengetahuan dan wisdom.

Tau nggak kalau teori gravitasi ditemukan saat pandemi?

Yup, ilmuwan besar bernama Issac Newton merumuskannya saat pandemi di London selama setahun lebih (1665-66). Newton menghabiskan waktu belajar dan menganalisis sendirian di rumah. Untungnya nggak ada sosmed dan aplikasi-aplikasi goblok saat itu, si Newton bisa fokus berkarya.

Nah gua nggak terlalu khawatir dengan pandemi Covid-19. Tapi kalau pandemi ini kelar, bakal ada bencana apa lagi? Gua mencurigai hal yang lebih besar yang nggak mau gua spekulasikan.

Yang penting adalah kalau tiba waktunya kelar pandemi ini, kita keluar dengan amunisi. Dan salah satu amunisi tersebut adalah:

ILMU PENGETAHUAN DAN WISDOM.

Ini sangat penting dan jangan dianggap remeh. Kalau enggak kita akan menyesal dan menerima akibatnya.

Mengejar ilmu pengetahuan dan wisdom sudah menjadi hak istimewa atau privilege. Kita berada di zaman informasi yang orang-orang terdahulu kita tidak nikmati.

Semua informasi bisa diakses dengan sentuhan jari. Ini adalah keharusan, jangan sampai Tuhan marah dengan kita yang tidak memanfaatkan kesempatan ini.

Tapi gua harus mulai dari mana?

1. Mulai dari membaca apa yang diminati

Apa keahlian yang elu suka fantasikan dan nggak pernah kesampean karena nggak ada waktu?

Mau lancar ngomong Inggris atau Mandarin? Ingin tahu sejarah Illuminati? Tahu astronomi? Dll.

Apapun itu inilah waktunya. Kita bisa mulai dari ilmu yang paling kita minati dan mudah kita cerna.

Kemarin pagi, gua kehabisan bacaan menarik di kamar gua. Dan gua lagi mau baca topik produktivitas dan bisnis, alhasil terdorong lah gua untuk pergi ke Gramedia di mall terdekat.

Sore jam 5 berangkat, gua berjalan kaki dari tempat gua ke Gramedia sejauh 2-3 KM.

Sesampainya, gua langsung sigap ke rak business/economics dan gua mulai di situ. Beberapa buku gua ambil dan baca awalnya, kalau terlalu berat gua taruh lagi sampai gua nemuin satu buku yang gua nikmati.

Ketemulah satu buku.

Beberapa halaman gua baca, sampai sekitar jam 8 malam gua sudah membaca setengah buku atau 100 halaman. Nggak terasa toko buku sudah mau tutup.

Gua nggak beli tuh buku, tapi banyak catatan penting gua ketik di hape gua dan sepulangnya gua langsung review dan praktikkan.

Biarin lah, seenggaknya gua sebut nama Gramedia di artikel ini buat tanda terima kasih. Haha.

Dan dari pengalaman dan pengetahuan buku tersebut gua mampu menulis artikel ini.

membaca buku di gramedia
Buku yang gua baca di Gramedia

Intinya adalah, kalau elu begitu malas untuk membaca, bacalah sesuatu yang benar-benar mengikat minat dan emosional elu. Pengetahuan yang benar-benar elu suka. Jika itu fiksi, dan by the way gua benci dengan bacaan fiksi. Nggak papa!

Permulaan yang bagus, yang penting ada yang bisa dibaca untuk membuat otak terasah.

2. Diri Sendiri Adalah Motivator Sejati

Satu-satunya motivasi sejati adalah motivasi-diri (self-motivation).

Menunggu orang lain untuk ngajarin dan mimpin elu untuk sukses bukan lah motivasi pak.

Motivasi harus muncul dari dalam diri sendiri. Elu lah yang harus mampu menggerakkan diri elu untuk belajar dan bertindak, bukan orang lain. Diri kita lah yang bertanggung jawab mengedukasi diri sendiri.

Jenius-jenius dalam sejarah dunia mengedukasi diri mereka sendiri dalam keadaan kesendirian.

3. Kuasai Banyak Bidang Ilmu

Seorang polymath: Leonardo Da Vinci

Adanya nuansa dalam ilmu itu penting banget pak. Zaman sekarang nggak bisa hanya menguasai satu ilmu. Itu membuat kita gampang diprediksi atau predictable.

Kita harus bisa nyebur ke banyak kolam-kolam air.

Gua yakin banyak orang Indonesia, terutama Jakarta, punya minat dan bakat di banyak hal.

Leonardo Da Vinci bisa sekaligus menjadi pelukis, arsitek, insinyur, penulis, pemusik, botani, dan filsuf adalah karena rasa ingin tahunya yang kuat. Dia punya fantasi tinggi untuk menguasai banyak keahlian. Dan dia tulis daftar keahlian yang mau dia pelajari di buku catatannya.

Nah pandemi ini adalah kesempatan untuk kita untuk menyelam di banyak kolam ilmu pengetahuan.

monalisa lukisan da vinci
Monalisa dilukis oleh seorang yang juga insinyur, arsitek, dan filsuf bernama Leonardo Da Vinci

4. Nggak Bisa Menguasai Suatu Bidang Dengan Cuma Menjadi Murid Youtube

Bukan karena elu nonton lima sampai sepuluh video soal ikan cupang di youtube, terus elu jadi ahli tentang ikan cupang.

Youtube itu bagus ketika dipakai untuk melakukan riset mendalam (further research). Misalnya elu denger berita Covid-19 di Youtube, terus elu lakukan riset lebih dalam lagi soal Covid-19 dengan membaca tentang virus, pandemi sejenis, sejarah pandemi, dll.

Kalau kerjaan cuma nonton Youtube, kita nggak bakal mencapai tingkat expertise. Lagian, banyak juga hoax tersebar di youtube dan banyak orang nggak bisa membedakan mana informasi benar dan salah.

Beberapa orang nonton video youtube dan langsung menggila dengan temuannya.

Saat pemilu AS tahun 2016, gua inget kakak gua bilang kalau tingkah Trump yang oon adalah konspirasi agar lawannya Hillary Clinton bisa menang. Dan sumbernya mungkin dia dapat dari video youtube yang dia tonton.

Singkat cerita tet tedeeet, Trump terpilih.

Nggak ada riset mendalam yang dilakukan kakak gua. Dia mungkin cuma nonton youtube.

5. Sebaiknya Uninstall Aplikasi-aplikasi Tolol

Pertama-tama yang perlu elu ingat para lelaki haha. Gua nggak nulis blog ini untuk nyuruh-nyuruh lu, hidup lu adalah hak dan tanggung jawab lu. Gua cuma ngasih perspektif.

Tik-tok goblok, fakebook, instashame adalah contoh aplikasi yang bisa mengalihkan kita dari prioritas yang seharusnya kita lakukan di era pandemi ini. Yaitu mengejar pengetahuan dan wisdom.

Banyak orang pakai sosmed untuk buat status lagi makan rawon setan lah, baca berita-berita hoax, atau scrolling foto-foto cewek murahan yang belaga model.

Ngapain? Cuma nambah-nambahin kegoblokan, waktu kebuang dan elu cuma membuat orang-orang idiot tersebut makin kaya.

Kecuali elu pakai aplikasi tersebut untuk keperluan bermanfaat seperti bisnis, itu lain topik.

Di atas gua bilang ini adalah zaman tantangan dan kesempatan. Nah salah satu tantangannya adalah menghindari atau mengurangi aplikasi dan sosmed ini.

Ini berat banget, apalagi untuk mereka yang kecanduan. Tapi sekali lagi, seperti kata Om Spiderman, kekuatan yang besar membawa tanggung jawab yang besar.

Internet adalah kekuatan yang besar dan tanggung jawabnya juga besar.

Kita harus cerdik dalam memanfaatkan sosial media.

FBI = FaceBook Incorporated.

Bungkus

Waktu dan kesehatan adalah aset paling berharga yang kita miliki saat ini. Kita harus bersyukur walaupun mungkin kekurangan. Tapi kita bisa gunakan waktu di rumah untuk belajar dan menguasai suatu bidang.

Waktu ini adalah kesempatan kita untuk keluar hidup-hidup dari pandemi Covid-19.

Dan yang gua maksud keluar hidup-hidup adalah keluar dengan ilmu baru, bukan dengan kegoblokan baru.

Peace.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *