Review Film Fight Club dan Good Will Hunting

Ini adalah review singkat tentang dua film yang cocok untuk laki-laki yang sedang mencari jati diri. Kebingungan dalam tujuan hidupnya.

1. Good Will Hunting (1998)

Good Will Hunting menceritakan tentang kehidupan seorang anak muda berumur 20 tahun bernama Will Hunting (diperankan oleh Matt Damon). Anak muda ini ‘tidak berpendidikan’ dan tidak sekolah. Pekerjaannya sendiri adalah membersihkan gedung kampus dan berpetualang dengan teman-teman tongkrongannya.

Tapi dia terlahir jenius dan memiliki bakat yang sudah sangat jelas terlihat. Dia punya kemampuan fotografik memori, yaitu kemampuan luar biasa dalam mengingat suatu gambar atau hal visual yang dilihat secara sekilas. Memiliki IQ yang sangat tinggi. Menyukai dan memahami buku-buku sains, ekonomi, sejarah, dll.

Tapi, anak muda ini adalah seorang berandal. Dibesarkan oleh ayahnya yang cukup keras dan tidak tau cara membesarkan seorang anak. Berteman dengan kawan-kawannya yang juga berandal dan tidak berpendidikan. Berkelahi di jalan dan jadi dalang tawuran sudah biasa Ia lakukan. Ditangkap polisi dan masuk ke dalam sel karena ulah-ulah kriminal sudah barang biasa buat dia.

Singkat cerita, suatu hari Will Hunting diajak teman berandalnya bernama Chuckie untuk nongkrong di bar tongkrongan anak-anak Harvard. Harvard sendiri adalah universitas paling bergengsi di Amerika, mungkin di dunia yang isinya anak-anak muda tajir dan pintar. Si Chuckie yang merasa bodoh ini berpikir akan percaya diri datang ke bar tersebut jika ditemani Will.

Dan pergilah mereka berdua beserta kawan berandal lainnya ke bar Harvard tersebut.

Setelah memesan minuman, Chuckie langsung saja menghampiri dua cewek Harvard yang sedang ngobrol asik di meja bartender. Lucunya, Chuckie berpura-pura mengaku bahwa ia seorang mahasiswa Harvard dan sangat pintar di jurusan sejarahnya.

Dengan gelagat dan modusnya, dia mencoba untuk merayu cewek-cewek Harvard ini dan terlihat cukup berhasil. Dia mendapat respon yang cukup positif dan menggairahkan dari cewek-cewek ini.

Namun ada seorang penunggu bar yang melihat percakapan asik antara Chuckie dan cewek modusannya. Dia sepertinya tahu bahwa Chuckie hanyalah seorang berandal bodoh yang datang entah dari mana dan tidak pantas menggoda wanita-wanita Harvard.

Ternyata dan sayangnya, si penunggu ini adalah seorang mahasiswa senior jurusan sejarah di Harvard.

Datanglah si penunggu ini menghampiri Chuckie yang sedang asik-asik ngobrol dengan cewek-cewek tersebut. Secara langsung Ia mengkonfrontasi Chuckie. Ia mengutip berbagai banyak sumber buku sejarah untuk menguji kepalsuan dari kepintaran Chuckie. Dan ingin memberikan rasa malu atas modusnya yang ‘tidak pada tempatnya’.

Habislah Chuckie. Si anak berandal yang tidak tau apa-apa ini dikonfrontasi dan dipermalukan oleh penunggu Harvard di depan cewek-cewek modusannya.

Melihat hal ini Will Hunting tidak tindak diam, dia langsung datang dan di sinilah adegan yang cukup iconic di film Hollywood terjadi.

Good Will Hunting – Bar Scene

2. Fight Club (1999)

Ini adalah film yang cukup menginspirasi saya waktu kuliah. Meskipun memberikan kesan yang mempropagandakan kriminalitas dan kekerasan. Pesan dan moral yang disampaikan benar sekali.

Kita beli barang yang tidak dibutuhkan, dengan uang yang tidak kita miliki, untuk pamer ke orang yang tidak kita sukai

Tyler Durden – Fight Club

Fight Club menceritakan tentang seorang anak muda kantoran yang sangat stres bekerja di dunia korporat. Ia membenci pekerjaannya. Tidak punya passion dan tujuan hidup. Dan mengidap penyakit insomnia yang sangat berat, alias tidak bisa tidur hampir setiap hari!

Suatu ketika anak muda ini bertugas ke luar kota. Ia bertemu dengan seorang anak muda bad boy, bernama Tyler Durden (diperankan oleh Brad Pitt), yang duduk disebelahnya di pesawat. Tyler sendiri adalah seorang pebisnis sabun paruh waktu.

Setelah ngobrol dan berkenalan, si anak muda ini ternyata tertarik dengan kepribadian Tyler yang acuh, random, dan filosofis.

Suatu hari, apartemen si anak muda ini meledak dan terbakar karena korsleting. Ia terlihat sangat terpukul melihat apartemen beserta isi-isinya yang menjadi abu.

Langsunglah Ia menelepon Tyler dan mereka bertemu di bar. Seperti biasa, dengan begitu bergairahnya, Tyler langsung menceritakan semua teori filosofinya.

Ia mengatakan bahwa kebanyakan orang hanyalah konsumen. Kebanyakan orang terlalu peduli dengan pendapat orang lain. Kebanyakan orang menyembah barang-barang duniawi, dll. Dan menurutnya, terpukulnya si anak muda ini pada apartemennya yang terbakar, dikarenakan dia terlalu materalistis.

Nah balik ke adegan. Adegan yang justru paling saya sukai adalah ketika si anak muda ini selesai ngobrol di bar. Dan modus-modusan mengatakan ingin mencari hotel padahal tujuannya Ia ingin Tyler menawarinya untuk menginap di tempatnya. Tapi tidak punya nyali untuk hanya meminta.

review film fight club
Brad Pitt sebagai Tyler Durden di film Fight Club

Mengetahui modus ini, si Tyler langsung mengkonfrontasi anak muda tersebut untuk meminta. Berhenti modus dan langsunglah meminta.

Anak muda: I should find a hotel huuft

Tyler: what!

Anak muda: what?

Tyler: a hotel?

Anak muda: yeah!

Tyler: Just ask man!

Anak muda: what are you talking about?

Tyler: haha, three pitchers of beers and still can’t ask

Anak muda: what?

Tyler: you call me because you need a place to stay

Anak muda: hey, no no no I don’t mean…..

Tyler: (cutting) yes you did, so just ask… Cut the foreplay and just ask man!

Anak muda: would that be a problem?

Tyler: is it a problem for you to ask?

Anak muda: can I stay at your place?

Tyler: yeah!

Fight Club Scene – Just Ask

Tonton adegannya:

Fight Club – Just Ask Scene

Dua adegan yang saya kira cukup bagus untuk menjadi ide dan inspirasi kamu dalam berkarya di bidang kreatif.

Peace.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *